About me

Foto Saya
gudangduniamusik
Lihat profil lengkapku
Feeds RSS
Feeds RSS

Kamis, 01 Maret 2012

musik blues


B.L.U.E.S
Blues,…
well, siapa sih penggiat musik yang tidak pernah mendengar istilah di atas? mungkin beberapa waktu lalu nama ‘Blues’ sendiri masih asing di telinga masyarakat awam, tapi semenjak mulai menjamurnya band2/musisi2 lokal yang meramu unsur pop dengan blues (Endah and Reza, Gugun Blues Shelter) maka istilah ‘Blues’ telah akrab di telinga kita semua. Blues akhir akhir ini telah memiliki tempat tersendiri di scene musik lokal maupun internasional dengan seringnya diadakan event blues, tidak hanya di USA tetapi juga di Indonesia (Jakarta, Jogja dan Bandung). Berkat kesuksesan Gugun Blues Shelter (walaupun musiknya lebih dominan funk) di kancah internasional membuka mata para penggemar musik tanah air tentang keberadaan musik ‘blues’ khususnya band blues lokal yang selama ini bisa dibilang masih bergerak di ranah indie label.  Warna musik Blues sebenarnya dulu pernah sukses dibawakan oleh band – band lokal seperti Time Bomb Blues dan Slank namun ketika masuk di era 2000-an mulai tenggelam oleh dominasi band pop.
Pertanyaannya,… mahluk apa sih Blues itu?
Mungkin kesan yang pertama kali melintas di kepala kita ketika mendengar kata ‘Blues’ adalah Oldies, musik orang tua, musik cafe kelas menengah ke atas, solo gitar yang menusuk2, dan sebagainya. Tidak semua salah, tetapi juga tidak semua benar. Jika dikaitkan dengan musik orang tua, kita tak dapat menyangkal jika Blues ternyata jenis musik yang dimainkan oleh popstar muda idola jutaan wanita: John Mayer.  Demikian juga di dalam negeri musisi2 seperti Endah Rheza, Gugun Blues Shelter, Rama Satria Claproth yang menyebarkan ‘wabah’ blues di kalangan generasi muda.  Jika dianggap sebagai musik cafe kelas menengah ke atas, jika dirunut dari sejarahnya, blues (demikian juga dengan jazz) pada hakikatnya adalah musik kelas pekerja kasar; orang2 kulit hitam di pinggiran kota di Amerika.
Blues adalah ‘tradisi’ 
Kembali ke pertanyaan awal kita,..Blues itu apa sih?
di sini saya ga akan membahas sejarah blues yang tentunya informasi tentang itu sendiri banyak tersebar di internet. Tapi di sini saya akan sedikit membicarakan blues dari sudut pandang seorang penikmat, dari sisi Blues sebagai sebuah tradisi.
Blues berhubungan dengan kata ‘blue’, warna yang seringkali diasosiasikan dengan ‘kesedihan’, ‘rasa sakit’ atau istilah masa kini nya ‘kegalauan’, wajar saja karena dirunut dari asalnya Blues berasal dari jeritan hati budak-budak afro-amerika yang tertindas oleh tuan tanah mereka (eh katanya ga mau ngomongin sejarah :D ). Blues juga memiliki sisi spiritual, bahkan berhubungan dengan dunia mistis. Musisi blues seringkali memasukkan istilah-istilah yang berhubungan dengan hal hal spiritual/mistis ke dalam lirik lagunya, misalnya Hoodoo dan Black Cat Bone (contoh pada lagu Hoochie Coochie Woman nya Muddy Waters).  Demikian juga dengan legenda Crossroads, yaitu kisah ketika Robert Johnson bertemu dengan setan di perempatan Crossroads (Clarksdale, Missisipi) dan menandatangani perjanjian maut dengan sang setan untuk mencapai ketenaran dan diajarkan bermain blues dengan baik.  Blues tidak hanya sebuah aliran musik; tidak hanya sebuah 12 bar dengan birama 4/4, tetapi blues adalah pencapaian spiritual bagi orang orang yang memainkannya, dan bagi siapapun yang menikmatinya.
Menurut saya Blues adalah musik yang di dalamnya kita gak akan menemukan teori, tetapi lebih didominasi oleh ‘rasa’. Saya sebagai seorang yang bisa bermain gitar gak akan naif mengatakan bahwa blues bisa berdiri tanpa didasari oleh teori, tapi kenyataannya teori musik (scale, modes, dkk) tidak berlaku absolut pada musik Blues. Anda bisa memainkan scale dorian (minor) pada chord dominant 7th atau minor pentatonik pada chord dominant yang secara teoritis itu gak nyambung. Di musik blues juga dikenal major-minor exchange (pergantian major ke minor) yang sering dilakukan oleh musisi2 blues tanpa didasari teori. Saya yakin jika anda menanyakan kepada BB King tentang pergantian lick dari major ke minor beliau hanya akan menjawab  ’i just play the blues’  :D . Blues adalah spontanitas, bahkan ada yang bilang blues adalah seperti proses ‘jamming’. Seorang musisi blues tampil bukan hanya terbatas sebagai seorang pemain musik/penyanyi, tetapi juga sebagai seorang story teller. Buddy Guy adalah seorang story teller dengan gitarnya, Howlin’ Wolf  adalah seorang story teller dengan suara beratnya. Blues adalah bukan hanya sekedar nyanyian tetapi juga sebuah ‘percakapan’ seperti pada pola call and response yang menjadi salah satu ciri khas musik Blues. Sekali lagi, Blues bukanlah musik yang menuntut seberapa cepat dan bersih anda memainkannya, tetapi tentang bagaimana cara anda menyampaikan perasaan anda kepada pendengar.
Blues adalah musik sekaligus sebagai sebuah tradisi. Blues adalah roots (akar) sehingga untuk mengenalnya anda harus mencarinya hingga ke bagian terdalamnya.  Anda tidak bisa bermain pentatonik minor dengan distorsi kencang dan menganggapnya sebagai ‘blues’, karena anda tidak menghargai tradisi nya.  Seperti istilah dari Andrie Tidie (musisi lulusan GIT dan Berklee) :  jika musik adalah ‘bahasa’, maka blues ibarat bahasa Inggris dengan logat bronx. Anda tidak akan dianggap berlogat Bronx jika anda merangkai kalimat bahasa Inggris versi anda sendiri yang ke-Melayu Melayu-an tanpa menjadi akrab dengan Tradisi logat bicara di Bronx aslinya. Jika anda ingin mengenal blues, maka anda harus mengenalnya sebagai musik Americana, bukan sekedar lick2 sendu yang kadang diselipkan oleh Richie Sambora. Blues adalah tradisinya orang-orang Afro-Amerika, maka kita memandang blues harus dari kacamata orang orang  Afro-Amerika pula, bukan hanya sebatas scale dan modes semata.
Blues adalah bahasa dunia.
Blues is the roots,..others are fruits. 
Blues adalah akar dari musik modern. Dari Delta Missisipi hijrah (atau istilahnya ‘hobo’ing) ke utara tepatnya di daerah Chicago dan berkembang menjadi Elektrik Blues (Chicago Blues) yang dipopulerkan oleh Muddy Waters lalu kemudian berkembang dan mempengaruhi aliran musik modern lainnya; terpengaruh dengan musik gospel maka lahirnya musik Soul dan R&B,  diracik dengan country bertempo cepat sehingga melahirkan musik Rock n Roll, kemudian melahirkan aliran aliran musik lainnya seperti Funk, Psycedelic Rock hingga Heavy Metal. Dari The Rolling Stones hingga Beyonce, dari Chuck Berry hingga Maroon 5, dari Jimi Hendrix hingga Mars Volta. Bahkan cetak biru dari musik turunan Black Sabbath yang berbau tri-tone itu adalah blues (blue note), jadi bisa dibilang musik Underground dan blues punya benang merah yang saling terhubung satu sama lain. Kirk Hammet adalah gitaris metal yang memainkan blues dengan tempo cepat, demikian juga dengan John Mayer seorang penyanyi pop yang meraung2 ala Steve Ray Vaughan bersama fender stratnya.  Semua diva pop yang terpengaruh oleh Aretha Franklin pastinya terpengaruh oleh blues, demikian juga dengan musik psikedelik dan garage rock yang kembali mewabah akhir2 ini walaupun didominasi oleh band Eropa (Inggris) tetapi mereka membawakan musik leluhur budak2 di Missisipi,..nothing but the blues!
Blues lebih dari sekedar musik, blues adalah rasa, blues adalah sebuah pengalaman spiritual yang bisa dialami oleh siapa saja. so,..how blues can u get?

0 komentar:

Poskan Komentar